Yayasan El-Fawaz :: Iman - Yakin - Sukses

 
 
 
 
 
 
You are here: ELFAWAZ Ekonomi Syari'ah Kebebasan Finansial
 
 

Kebebasan Finansial

Email Cetak PDF

Kebebasan Finansial. Kosa kata baru yang mudah anda temui di seminar perencanaan keuangan, presentasi produk MLM atau bisa anda baca di buku-buku terbaru. Atau anda justru sudah khatam triloginya Robert T. Kiyosaki:”Rich Dad, Poor Dad”, “Cash Flow Quadrant” dan “Rich Dad Guide To Investing”.

Kebebasan Finansial membuat semua orang terobsesi untuk meraihnya. Siapa yang tidak ingin mencapai kebebasan finansial? Robert T. Kiyosaki memaknai kebebasan finansial sebagai suatu keadaan di mana Anda tidak bekerja untuk uang, tapi uang yang bekerja untuk anda. Artinya Anda sudah berada pada kuadran “I” (Investor) di mana investasi yang Anda tanamkan memberi passive income yang cukup bagi Anda. Seperti Top leader di bisnis jaringan (MLM) yang mendapatkan komisi dari hasil kerja jaringan yang sudah dia bangun dan terus dibina.

Dalam bidang perencanaan keuangan, kebebasan finansial dimaknai sebagai suatu kehidupan yang bebas dari hutang, memiliki pendapatan tetap, telah menyiapkan dana cadangan melalui sejumlah instrumen, untuk keperluan tidak terduga maupun biaya yang sudah bisa diukur sebelumnya seperti biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, dan lain-lain.

Cash Flow Quadrant membagi orang bekerja menjadi 4 kategori : Employee (E), Self Employed (S), Business Owner (B) dan Investor(I). E dan S di kuadran kiri sedangkan B dan I di kuadran kanan. E dan S mementingkan aspek keamanan penghasilan yang dampaknya justru mereka menjadi “budak uang” sedangkan B dan I tidak menghindari risiko tetapi justru memilih untuk mengelola risiko tersebut, dampaknya mereka bisa menjadi “tuan uang”. Ada dua pilihan dalam konsep kebebasan finansial : menjadi budak uang atau menjadi tuan dari uang.

Pertanyaannya :”Benarkah seorang Investor adalah orang yang memiliki kebebasan finansial?” Dalam kenyataannya pada waktu krisis moneter tahun 1998 dan krisis global 2009, justru yang pertama kali bereaksi dan cemas adalah para investor. Karena mereka lah yang terkena dampak pertama kali perubahan ekonomi. Dampak selanjutnya akan mengenai kaum pekerja. Orang di kuadran E dan S juga tidak dijamin “aman” secara finansial. Resiko PHK dan inflasi juga mengancam mereka.

Sepintas tidak ada yang bermasalah dengan konsep kebebasan finansial. Konsep Kebebasan ini lahir dari worldview Kapitalisme yang materialistik. Uang adalah sumber kebahagiaan. Bagi mereka yang di kuadran Employee dan Self Employee “keamanan” adalah hal yang utama. Sedangkan bagi Business owner dan Investor “Risiko” bukan untuk dihindari, tetapi harus dikelola, Karena dalam Investasi berlaku hukum “high risk, high return”. Alternatif pilihan yang diberikan Kiyosaki hanya dua: bekerja untuk uang atau uang bekerja untuk anda”. Disini masalahnya menjadikan uang sebagai poros utamanya.

Akibatnya makna kebebasan finansial menjadi bias, disederhanakan menjadi pendapatan yang setinggi-tingginya. Terobsesi dengan makna nominal dan penghasilan tak terbatas. Obsesi kebebasan finansial seringkali memupuskan harapan orang yang tidak memiliki ilmu dan persiapan yang matang. Banyak orang kemudian memasuki bisnis-bisnis jaringan atau multilevel marketing, bermain saham, forex, dan instrumen investasi lainnya, bahkan mengikuti program-program money game. Dimana masing-masing pilihan investasi memiliki risikonya sendiri. Belum termasuk aspek halal dan haram yang perlu dikedepankan.

Merujuk ke filosofi Kapitalisme, “greedy is good” (rakus itu baik). Tidak ada batasan moral dalam kapitalisme untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya. Semua orang berhak dan sah apabila menjadi kaya meski mengakibatkan orang lain menjadi miskin.

Orientasi “keamanan finansial” dan “kebebasan finansial” sebenarnya justru mengakibatkan ketidakamanan dan ketidakbebasan dari belenggu finansial. Batas penghasilan yang bisa dianggap titik kebebasan finansial tidak pernah disepakati. The limit is the sky. 1 Miliar kah atau 1 Triliun atau satuan di atasnya lagi. Di masing-masing titik penghasilan manusia dihadapkan dua pilihan: merasa kurang atau merasa cukup.

Membaca trilogi Robert T. Kiyosaki memang menarik dan perlu. Sebagai ilmu kewirausahaan dan ilmu alat agar bisa menjadi kaya kita bisa mengambilnya, tetapi sebagai filosofi kehidupan kita perlu mencerna satu persatu dan memverifikasinya dengan worlview yang sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ada dua pilihan memaknai kebebasan finansial : mendefinisikan ulang atau mencari konsep sendiri yang genuine yang lebih sesuai dengan spirit ajaran Islam. Kebebasan finansial bagi kita bermakna: bebas dari belenggu finansial(tidak terbelit hutang dan mampu melaksanakan kewajiban memberi nafkah keluarga) dan bebas memanfaatkannya untuk beribadah (bayar zakat, naik haji, infak, shodaqoh, wakaf, hadiah dll).

Mari kita simak salah satu hadits di bawah ini :

­

Robbku menawarkan kepadaku untuk menjadikan lembah Mekah seluruhnya emas. Aku menjawab, "Jangan ya Allah, aku ingin satu hari kenyang dan satu hari lapar. Apabila aku lapar aku akan memohon dan ingat kepada-Mu dan bila kenyang aku akan bertahmid dan bersyukur kepada-Mu." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Di bawah ini adalah kisah seseorang yang memiliki kebebasan finansial :


Khalifah Umar bin Abdul Aziz berbaring dirumahnya teramat sederhana, diatas kasurnya yang tipis, kemudian disaat itu masuklah anak pamannya seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah anda akan berwasiat perihal putera-puteri anda? Mereka banyak jumlahnya, sedangkan selama ini anda telah menelantarkannya, dan kini anda tidak meninggalkan apapun kepada mereka!”. “Apakah saya memang mempunyai sesuatu yang dapat saya wasiatkan untuk mereka?”, tanya Amirul Mukminin. “Atau kamu menghendaki agar saya memberikan harta umat kepada mereka”, tanya Amirul Mukminin lagi. “Demi Allah, saya tidak memberikan hak orang lain kepada mereka! Mereka boleh memilih salah satu diantara dua : tetap menjadi orang yang sholeh, dan Allah niscaya akan melindungi mereka. Atau menjadi orang-orang yang tidak sholeh, dan saya takkan meninggalkan sesuatu pun yang akan membantu mereka berbuat maksiat kepada Allah”, tegas Amirul Mukminin.

Disaat sakitnya semakin berat, kemudian diperintahkannya untuk memanggil semua anaknya agar mereka menemuinya. Dengan tergesa-gesa mereka pun datang menemuinya, anaknya yang berjumlah dua belas itu. Semuanya dalam keadaan terlantar, tubuh mereka lunglai dengan rambut yang kusut masai. Sementara wajah-wajah mereka yang kuyu telah merusak keelokan dan kecantikan wajah mereka. Mereka duduk mengelilinginya. Satu persatu ditatapnya wajah mereka dengan pandangan penuh kasih sayang.Air matanya jatuh berderai, kemudian Khalifah memberi nasihat yang diucapkannya secara terbata-bata kepada mereka : “Anakku sekalian. Ayahmu diberi salah satu diantara dua pilihan. Kalian hidup kaya, tetapi masuk neraka. Atau kalian hidup miskin tetapi masuk surga. Maka ayahmu lebih suka menitipkan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Kitab, dan Dia akan melindungi orang-orang yang sholeh..”, ucap Amirul Mukminin.


Saat itu pandangannya kelihatan berbinar-binar yang sedang air mukanya berseri-seri. Kemudian kedua matanya ditujukkan ke arah pintu dengan pandangan yang penuh arti, seakan-akan sedang memandang tamu-tamu yang sangat dihormati. Ia tersenyum kepada putera-puterinya, kepada ibunya yang amat dimuliakannya, serta kepada isterinya yang setia. Kemudian mempersilakan mereka untuk meninggalkan dirinya.

Sepeninggal mereka, Amirul Mukminin mengangkat kedua tangannya, seaskan-akan sedang menyambut dan mempersilahkan kedatangan tamu yang sudah lama dinanti-nantikannya.
Memang benar, saat itu rombongan Malaikat suci, hamba-hamba Allah yang dekat kepada Nya telah datang menjemputnya menuju tempat pelantikan yang telah disediakan baginya, tempat yang abadi, surga Allah taman Firdausi..


Orang-orang yang berada diluar kamarnya, samar-samar mendengar Amirul Mukminin sedang membaca ayat suci yang mulia dan agung :


“Kebahagian di kampung akhirat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yangtidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yagn baik itu adalah orang-orang yang taqwa”. (Surah Al-Qashas : 83).


Saat itu pula sahabat karibnya yang menjadi penasihatnya Raja’ bin Haiwah, melihat Amirul Mukminin mengulang-ngulang ayat itu, dan tak lama kemudian, nafasnya berhenti berdetak, dan pergi untuk selama-lamanya. Dengan wajahnya yang tersenyum. Itulah akhir kehidupan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy
 
 
 
 

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini260
mod_vvisit_counterKemarin283
mod_vvisit_counterMinggu ini260
mod_vvisit_counterMinggu lalu1848
mod_vvisit_counterBulan ini5211
mod_vvisit_counterBulan lalu9271
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung69353

ShoutMix

Facebook Fan Page

Share/Save/Bookmark